Aku yakin ini masuk akal, bahwa ada semacam sugesti dalam pikiranku yang mengatakan bahwa belajarlah nyetir di tempat yang s-e-p-i, karena dengan begitu probabilitas segala macam bentuk kecelakaan dapat diperkecil. Berawal dari sugesti inilah aku kemudian bertekad untuk menempuh perjalanan menyebrangi 3 pulau demi mendapatkan suasana yang sepi tadi, dan sampailah aku di sebuah kota yang dihuni tidak lebih dari 400.000 penduduk, terdiri dari perbukitan, dan terletak di sebuah pulau yang dikenal dengan nama Sumbawa.
on ferry to Sumbawa. I love sailing! |
di ruangan Nahkoda |
1.5 hours sailing, yay! |
Morse codes |
road to the harbor |
Sore itu duduk di pantai Selipir Ate, salah satu (atau mungkin satu-satunya) tempat favorit orang-orang kota Sumbawa kalo nongkrong. Maaf kalo menyakitkan, tapi buatku pantainya 11-12 ama Parang tritis di Jogja, lihat pasirnya yang kasar dan coklat aku jadi ilfil mau main2 di bibir pantai (yang merupakan aktifitas favoritku kalo ke pantai), kamerapun aku masukin ke tas lagi, gak ada objek menarik untuk difoto. Jadilah sore itu cuman duduk menikmati air kelapa muda.
“lihat perahu itu?” Tanya si bapak sambil menunjuk perahu yang hampir tidak keliatan. Aku hanya mengangguk pendek. “itu perahu dari pulau Moyo”. Dengar kata Moyo aku langsung teringat mendiang Lady Diana. Butuh waktu sekitar 45 menit dengan boat untuk menyebrang ke pulau Moyo dari Sumbawa. Disana terdapat resort mewah bernama Amanwana, milik seorang investor asing. Resort yang mahal dan terkenal karena kemampuannya menjaga privasi tamunya. “mau kesana lihat kamar tempat Lady Di pernah nginap?” tawar si bapak sambil senyum2 karena dia tau aku pasti gak bakal nolak, tapi dari senyumannya aku udah tau ini tawaran palsu “yang bener pak?” tetap aku tanyakan juga keseriusannya. Dari informasi beliau yang pernah kesana, nuansa kamarnya sangat menyatu dengan alam, jauh dari kesan modern, tapi mewah. Dan rumornya kamar Lady Di sendiri satu malamnya 8 Juta! Wow! Bisa buat beli motor second pikirku. “iya bener, tapi harus sewa boat sehari sebelumnya untuk kesana, ntar tinggal bilang mau ngeliput”. Salah satu alasan kenapa traveling dengan si bapak menyenangkan karena beliau adalah seorang jurnalis, dan dengan alasan ngeliput bisa dengan mudah dapat akses untuk memasuki wilayah tertentu".
Singkat cerita, aku gak jadi ke pulau Moyo dengan alasan cuaca sangat buruk, dan si bapak amat sangat parno dengan gelombang laut apalagi kalo ditambah hujan.
Nah, saatnya belajar nyetir. Seorang teman bapak, mba Murtanti, dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi guru setirku tepat disaat tidak ada seorangpun yang ingin mengajariku.
Hari pertama, kedua dan ketiga pun berlalu, kemampuan nyetirku udah lumayan sekarang, ya udah bisalah ambil haluan kalo mau belok, pertahanin bodi mobil tetap di dalam batas markah, secara sebelumnya zig-zag kanan kiri gak karuan, pindah gigi, nyalain lampu jalan. Dan tiba-tiba, mba Mur nawarin ngajak ke Lombok, katanya sih harus segera balik karena ada panggilan dari kantor. “gimana, mau ikut gak? Ntar kamu deh yang nyetir” nawarin aku untuk ikut ke sana.. ya secara aq lagi belajar nyetir, jadi semangat2nya kalo disuruh nyetir, “siip mbaa.. jangankan Sumbawa-Lombok deh, Sabang sampai Merauke juga gak apa2 koq”.
Sebelum pergi ke pelabuhan untuk menyebrang menuju Lombok, aku sempetin ke hotel tempat mba Mur nginap dulu buat ambil barang2nya, namanya hotel Kencana, hotel yang lumayan populer di kota Sumbawa. Kamarnya berbentuk cottage, masuk ke halaman hotel langsung deh keliatan pantai. Sebenarnya di Kota Sumbawa sendiri banyak pantai, tapi kalo mau pantai yang benar2 bagus adanya berjam2 masuk ke pelosok, ya agak jauh emang, tapi kalo udah lihat pantainya beeuughhh.. sepadan deh ama capeknya, pasirnya yang halus dan putih menjadi pijatan yang nyaman di telapak kaki, gradasi warna air laut yang biru kehijau-hijauan sejauh mata memandang benar2 worth-seeing, ditambah desiran angin pantai menembus pori-pori kulit bikin stress kabur, kalo berada di suasana seperti itu, aku jadi reflek bertasbih, dan biasanya juga langsung melakukan pose2 yoga yang ringan hehe.. salah satu pantai yang aku maksud adalah pantai Maluk, kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota Sumbawa. Dalam Wiki Travel disebut bahwa pantai Maluk dikenal dengan super-suck wave sehingga menjadi andalan para surfer.
white-sand beach is my favorite! :) |
maaf gak punya gambar ombaknya, berhubung aku bukan penikmat surfing, hanya penikmat bibir pantai. |
Maluk is quite and clean, and not touristy! :) |
Gak lama setelah mba Mur selesai berkemas “eh, kamu mau lihat kamarnya Dewi Kwan In gak?” tawarnya padaku. “emang ada gitu?” Tanyaku gak percaya. “iya itu cottage paling pojok no.18, dipercayai pernah didatangi oleh sang Dewi”. Hmm bisa jadi objek menarik nih untuk difoto pikirku. Sepanjang perjalanan menuju cottage 18, entah kenapa aku tiba2 merasa seperti Sun Go Kong yang sedang menemani Biksu Tong mencari kitab suci ke negeri barat *imajinasi liar.
Dan tiba-tiba saja soundtrack rap itu mengalun-ngalun indah di telingaku..
Seekor kera/ terpuruk terpenjara dalam gua/ Di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa/ Bertindak sesuka hati loncat ke sana kesini/ Hiraukan semua masalah di muka bumi ini/ Dengan sehelai bulu dan rambut dari tubuhnya/ Dia berubah, menerpa, menerjang segala apa yang ada/ Walau halangan rintangan semakin panjang membentang/ Tak jadi masalah dan tak kan jadi beban pikiran
kera saktiiii…
tak pernah berhenti berbuat sesuka hati
kera saktiiii…
menjadi pengawal mencari kitab suci
kera saktiiii…
liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi gempar
kera saktiii…
hanya hukuman yang dapat menghentikannya
Walau rintangan, halangan membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran
ha… ha…
Sampai di cottage keramat, aku sudah bisa melihat perbedaannya dibanding cottage yang lain. Berapa bagian dinding dicat warna merah, di teras cottage terdapat lampion cina bergantungan, bahkan ini satu2nya cottage yang di halaman depannya ada kolam kecil dengan bungai teratai yang mengapung. Ya wajar saja, karena teratai adalah lambang sang Budha.
Kebetulan banget saat itu rombongan vihara dari Lombok datang untuk mengunjungi kamar keramat dan bersembahyang disitu. Dari wajah mereka, aku yakin mereka semua berasal dari keturunan Tionghoa. Begitu menaiki tangga cottage aku segera menuju jendela untuk melihat kondisi di dalam seperti apa, susah untuk masuk karena penuh. Tidak jauh beda dengan cottage yang lainnya, hanya saja terdapat 2 tempat tidur dengan seprei warna merah, terletak lukisan Dewi Kwan In dan peralatan sembahyang di space kosong diantara 2 tempat tidur itu. Tidak berapa lama, beberapa orang mulai keluar dari kamar dan mempersilahkan kami untuk masuk. Sebenarnya aku gak bermaksud untuk masuk, karena kalo masuk berarti ingin sembahyang. Tapi setelah godaan mengambil gambar interior kamar dari tengah ruangan muncul akhirnya aku masuk juga.
the sacred 18. |
Dewi Kwan In's sacred room. |
Tuh kan bener, baru jeprat-jepret bentar, aku langsung diberi dupa yang baru saja dibakar ujungnya. Mba Mur disebelahku mulai duduk dan berbisik “disini kamu bisa berdoa dengan cara Islam, memohon apa yang kamu inginkan, tidak masalah, hanya tempat ibadahnya saja yang berbeda” memberitau seakan mengerti keenggananku untuk memegang dupa. “oh..” jawabku singkat tanpa ingin berdebat. Karena aku gak mau mengundang perhatian orang di sekitar, aku mulai menutup mata dan berkomat-kamit.
Gak ada 5 menit kakiku mulai kesemutan, sebentar-bentar aku buka mata memastikan kalo mba Mur masih di sebelahku. Karena jujur aja, aku gak tau ini dupa harus aku taruh dimana. Waktu aku lihat orang2 keluar sembahyang tadi, aku gak lihat mereka bawa dupa. Hmm aku harus taruh disini, tapi dimana?! Gak lama mba Mur berdiri dan menuju guci kecil berwarna emas berisi tumpukan abu, barulah aku sadar kalo dupanya ditancapkan disitu.
Terjadi kehebohan di luar kamar, seorang anak yang baru selesai sembahyang mengaku kalo dia telah mendapat bisikan dari sang Dewi untuk mencari batu permata yang tersembunyi diantara semak-semak di belakang kamar keramat. Tak lama seorang ibu yang sedang berdiri menyaksikan para laki-laki mencari permata menyapaku “dapat bisikan dari sang Dewi?” dengan suara parau. “oh.. gak bu” jawabku menggeleng sambil tersenyum. Ya terang aja gak, karena waktu komat-kamit yang aku baca ayat kursi, gak tau kenapa aura kamar keramat saat itu membuatku takut kesurupan.
Uniknya lagi, setelah aku merasa cukup mengambil gambar dan siap meninggalkan cottage, kami bertemu dengan seorang bapak tua yang tadi aku lihat sembahyang di dalam, memandangi wajahku begitu lama, kemudian gak ada angin gak ada hujan, dia langsung meramal masa depanku. Aku gak usah ngasih tau lah yaaa ramalannya apa, kan aku maluuuww kalo kalian pada tauuuu haha :P
Intinya sih ramalannya positif, aku hanya bisa tersenyum aja sambil pamit ingin duluan. Sejujurnya aku gak tertarik diramal, karena aku suka kejutan, dan aku lebih senang hidup tetap misteri. “terimakasih pak, saya duluan” sambil melambai ke arahnya dan segera berlalu sebelum dia meramal asmaraku.
Belakangan aku baru tau, beberapa orang Cina menguasai ilmu membaca wajah (face reader). Bentuk wajah setiap orang diyakini menggambarkan kepribadian, masa lalu dan juga masa depannya. Hmm orang Cina emang banyak ilmunya, dari shio, fengshui, akupunktur, pernapasan (tai chi), ngelihat hoki, sampe baca wajah *geleng-geleng.
~Sumbawa, dengan hati riang menuju Lombok.
ee amuungk....kenapa km bawa2 film favoritku ituu!! km kan juga suka nonton mbuu!! hahahahaha
ReplyDeleteI saw the pictures, did you take it yourself?! because if yo did, It was unbelievably AWESOME!!
good job with the EOS!!
hahhaha.. yes that's our favorite! :*
ReplyDeleteoff course I took them my self, I did as you taught me! I learn from the best ^^
e aoongg ee... thank you mbu! haha